Universitas Muhammadiyah Mamuju

Unggul Berbasis Ecodesign (The Social Entrepreneurship University)

Author Archives: Admin

UNIMAJU SUKSES CETAK 343 SARJANA, PROF IRWAN AKIB : JADILAH INSAN PEMBELAJAR

Universitas Muhammadiyah Mamuju (UNIMAJU) sukses menggelar Rapat Senat Terbuka Luar Biasa dalam rangka Wisuda Sarjana Strata Satu (S1) Angkatan ke 4 Tahun 2024 di Ballroom Grand Maleo Hotel Mamuju, Senin 16 Desember 2024. Sebanyak 343 sarjana baru dari program studi manajemen dan ekonomi pembangunan yang siap berkontribusi di masyarakat.
Acara yang dimulai pada pukul 08.00 WITA itu, berlangsung penuh khidmat. Rektor Unimaju, Dr. H. Muh Tahir, M.Si., hadir bersama para pimpinan universitas, jajaran senat, Ketua Badan Pembina Harian sekaligus Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Irwan Akib, M.Si, tamu kehormatan, dosen, serta mitra Unimaju baik dari Pemerintah, Perbankan, dunia usaha maupun organisasi Otonom Muhammadiyah yang memberikan dukungan penuh terhadap visi Unimaju untuk mencetak lulusan yang unggul dan berkualitas serta menjadi bukti sinergi kuat Unimaju dengan stakeholder.
Dalam sambutannya, Rektor UNIMAJU menyampaikan apresiasi kepada para wisudawan/ti atas perjuangan mereka selama menempuh pendidikan serta ucapan terima kasih kepada para orang tua yang telah mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada Universitas Muhammadiyah Mamuju.
“Hari ini adalah momentum bersejarah bagi kita semua. Wisuda ini bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan baru. Saya percaya bahwa para lulusan Unimaju akan menjadi agen perubahan yang memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, bangsa, dan agama,” ungkap Dr. Muh Tahir
“Untuk kedepannya kita akan mendorong pemanfaatan ekonomi digital terutama dalam dunia bisnis, terlebih di Universitas Muhammadiyah Mamuju memiliki Fakultas Ekonomi & Bisnis”, tambah Muhammad Tahir
Muh. Tahir juga mengaku sangat bangga dengan pencapaian Unimaju yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Apalagi, minat mahasiswa untuk menimbah ilmu di Unimaju semakin tinggi.
Tahun ini saja, sebanyak 440 mahasiswa baru yang terdaftar menjadi mahasiswa Unimaju. Dari 440 mahasiswa, 60 persen mendapat bantuan beasiswa KIP.

Sementara itu, Ketua Badan Pembina Harian sekaligus Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Irwan Akib, M.Si menekankan pentingnya semangat berkelanjutan dalam pendidikan. Ia berharap para lulusan tidak berhenti pada pencapaian saat ini tetapi melanjutkan studi hingga tingkat pascasarjana, apalagi UNIMAJU telah memiliki program pascasarjana yang dapat meningkatkan kontribusi lulusan di masyarakat.
“Jangan hanya berhenti di hari ini dengan memakai baju wisuda. Kami berharap, Anda bisa memakai baju wisuda berikutnya di tingkat pascasarjana. Dengan adanya program pascasarjana di UNIMAJU, Anda memiliki peluang lebih besar untuk memperluas wawasan dan memperdalam keilmuan demi kontribusi yang lebih besar,” tegasnya.

Puncak acara ditandai dengan pemberian penghargaan kepada lulusan terbaik dari masing-masing jurusan. Sebanyak 8 mahasiswa terbaik diantaranya 4 dari program studi manajemen dan 4 dari program studi ekonomi pembangunan dengan kriteria IPK dan Pelaku Usaha.
Prosesi wisuda ini menjadi bagian dari upaya Unimaju dalam mendukung pembangunan daerah melalui penciptaan sumber daya manusia yang unggul, berkarakter dan berorientasi pada keberlanjutan.

Universitas Muhammadiyah Mamuju Cetak 343 Sarjana Baru, Rektor Berikutnya Kita Kembangkan Ekonomi Digital Di Unimaju
MAMUJU, Universitas Muhammadiyah Mamuju (Unimaju) kembali menggelar Rapat Senat Luar Biasa Wisuda Sarjana Strata Satu (S1) Tahun 2024 di Ballroom Grand Maleo Hotel Mamuju, Senin, 16 Desember 2024. Wisuda kali ini mengukuhkan wisudawan(i) sebanyak 343 mahasiswa dari dua jurusan, yakni, Jurusan Ekonomi Pembangunan sebanyak 97 orang dan Jurusan Manajemen sebanyak 246 orang. Turut hadir Wakil Ketua DPRD Sulbar, ST. Suraidah Suhardi dan beberapa Forkopimda Sulbar.
Saat diwawancarai, Rektor Unimaju Dr. H. Muh. Tahir mengatakan, wisuda kali ini merupakan wisuda angkatan ke-IV sejak Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Muhammadiyah Mamuju bertransformasi menjadi Universitas Muhammadiyah Mamuju (UNIMAJU). “Angkatan ke empat ini kita hitung paska STIE-MM berubah bentuk menjadi Universitas Muhammadiyah Mamuju (UNIMAJU) ya, kalau wisuda STIE Muhammadiyah Mamuju sudah 20 tahun,” ujar Rektor Unimaju. Muh. Tahir juga menambahkan, untuk menjadikan Unimaju sebagai Universitas yang maju dan terkemuka di Sulbar, kedepan Unimaju akan mengembangkan ekonomi digital.
“Alhamdulillah kita mendapatkan pencerahan dari Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah & Kepala Lembaga LLDIKTI Wilayah IX. Kedepan kita akan memanfaatkan ekonomi digital sesuai dengan jurusan kita di Unimaju,” ujar Tahir. Saat ini, anak-anak Sulbar kurang yang memanfaatkan digital untuk berbisnis, padahal mereka punya kemampuan untuk memanfaatkan terkhnologi itu. Oleh sebab itu, Unimaju akan terus mendorong agar anak muda Sulbar memanfaatkan digital untuk mengembangkan bisnis mereka. “Kita akan terus mendorong agar mereka berperan secara pro aktif dan terus bergerak memanfaatkan digital. Kita di Unimaju sudah memberikan proses pembelajaran yang sudah sempurna, baik dari teori maupun praktek,” tambah Muh. Tahir.
Tak lupa, Muh. Thahir juga berterimakasih kepada mitra, masyarakat, pemerintah daerah dan pemerintah pusat yang telah memberikan dukungan yang luar biasa kepada Unimaju. “Kedepan kita akan terus mengembangkan kolaborasi jejaring bersama pemerintah daerah dan pusat untuk mencapai Indonesia Emas, salah satunya melalui Unimaju,” tambahnya. Muh. Tahir sebagai Rektor Unimaju juga mengaku sangat bangga dengan pencapaian Unimaju yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Apalagi, minat mahasiswa untuk menimba ilmu di Unimaju semakin tinggi. Tahun ini saja, sebanyak 440 mahasiswa baru yang terdaftar menjadi mahasiswa Unimaju. Dari 440 mahasiswa, 60 persen mendapat bantuan beasiswa dari KIP. “Kita berharap agar pemerintah juga memberikan bantuan beasiswa untuk Strata Dua (S2),” pungkas Muh. Tahir.
Field Trip Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi: Menggali Wawasan Dunia Agribisnis bersama Kepala Dinas Ketahanan Pangan Mamuju

Mamuju, 3 Desember 2024 – Program studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Mamuju (UNIMAJU) mengadakan Field Trip mata kuliah Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi dengan mengunjungi Kantor Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Mamuju dengan tujuan untuk memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa mengenai dinamika organisasi di sektor pemerintahan. Para mahasiswa didampingi oleh dosen pengampu mata kuliah, Dr. H. Muh Tahir, M.Si, yang memberikan pengantar tentang pentingnya mendapatkan wawasan langsung dari instansi teknis terkait.
Dalam kunjungan tersebut, peserta kuliah diberikan materi oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan Mamuju, H. Lukman Sanusi, SE., M.P. Materi yang disampaikan mencakup visi, misi, dan tugas pokok Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Mamuju. H. Lukman Sanusi juga memaparkan hasil analisis kebutuhan pangan di Mamuju, di mana dari 13 item kebutuhan pokok pangan, mayoritas masih bergantung pada pasokan dari luar kabupaten Mamuju.

Beliau menjelaskan langkah strategis Dinas Ketahanan Pangan dalam menjaga stabilitas harga, seperti intervensi melalui bazar murah, pemantauan kelangkaan, dan penggerakan program pemanfaatan lahan pekarangan. Salah satu fokus utama adalah penanaman cabai yang menjadi komoditas penting karena sering memicu inflasi.

Lebih lanjut, H. Lukman Sanusi menggarisbawahi pentingnya penggerakan program aksi ketahanan pangan melalui pendekatan kepemimpinan teknis di lapangan. “Istilah manager sangat tepat digunakan dalam menggerakkan sumber daya, karena pendekatan ini lebih menitikberatkan pada kerja langsung di lapangan,” jelasnya.

Dr. Muh. Tahir dalam sambutannya menekankan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran berbasis lapangan yang sering disebut field trip. “Meski waktunya hanya sehari, kegiatan ini sangat relevan bagi mahasiswa agribisnis untuk memahami langsung implementasi teori dan praktik di instansi teknis terkait seperti Dinas Ketahanan Pangan,” ujarnya.

Pada akhir kegiatan, Dr. Muh. Tahir menyampaikan apresiasi tinggi kepada Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan seluruh tim atas penerimaan yang luar biasa. “Materi yang disampaikan sangat kaya, mencakup regulasi, teori, data, serta solusi problematika ketahanan pangan. Mahasiswa juga mendapatkan wawasan mendalam tentang model kepemimpinan yang berbasis partisipasi, komunikasi, dan kolaborasi,” tutupnya.

Kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam membekali mahasiswa dengan wawasan praktis yang relevan, mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan di dunia agribisnis.

112 TAHUN MUHAMMADIYAH: PERJALANAN PANJANG MENYENTUH SETIAP LAPIS KEHIDUPAN

(Furqan Mawardi). Muhammadiyah, organisasi Islam terbesar kedua di Indonesia, merayakan ulang tahunnya yang ke-112 pada tahun 2024. Dalam perjalanan panjangnya, Muhammadiyah telah mengukir sejarah yang tak hanya berdampak pada kehidupan umat Islam, tetapi juga bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Dengan tema “Menghadirkan Kemakmuran untuk Semua”, Muhammadiyah kembali mengingatkan kita akan peranannya sebagai pendorong perubahan sosial, pendidikan, dan kesehatan yang tidak hanya memprioritaskan kemajuan umat, tetapi juga membawa manfaat bagi bangsa secara keseluruhan.

Sejak didirikan pada 18 November 1912 oleh KH Ahmad Dahlan, Muhammadiyah telah berkembang pesat menjadi salah satu kekuatan terbesar dalam dunia pendidikan dan sosial. Dengan lebih dari 22.000 lembaga pendidikan dari tingkat PAUD hingga perguruan tinggi, Muhammadiyah telah memberikan kontribusi signifikan dalam mencetak generasi yang berpengetahuan, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan zaman. Pendidikan adalah fondasi utama yang digalang oleh Muhammadiyah, mengingat organisasi ini percaya bahwa kemakmuran tidak hanya ditentukan oleh kekayaan materi, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia.

Pada tahun 2024 ini, Muhammadiyah telah memiliki 2.766 lembaga pendidikan dasar, 1.826 lembaga pendidikan menengah, dan 1.407 lembaga SMA dan SMK, serta 164 perguruan tinggi. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan gambaran nyata tentang bagaimana Muhammadiyah terus memperluas jangkauan pendidikan untuk masyarakat, terutama di daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh institusi pendidikan lainnya. Di tengah maraknya kesenjangan sosial dan ketidakmerataan kualitas pendidikan, Muhammadiyah hadir sebagai solusi dengan menyediakan akses pendidikan yang berkualitas dan berkeadilan.

Tidak hanya di bidang pendidikan, Muhammadiyah juga berperan besar dalam sektor kesehatan. Dengan 364 rumah sakit dan klinik kesehatan yang tersebar di seluruh Indonesia, Muhammadiyah menunjukkan komitmennya dalam memberikan layanan kesehatan yang terjangkau bagi masyarakat. Kehadiran rumah sakit dan klinik Muhammadiyah di berbagai daerah, terutama yang terletak di wilayah terpencil, memberikan harapan baru bagi masyarakat yang selama ini kesulitan mengakses layanan medis. Program-program kemanusiaan ini memperlihatkan bagaimana Muhammadiyah tidak hanya berfokus pada aspek spiritual, tetapi juga pada aspek kesejahteraan fisik umat.

Selain itu, Muhammadiyah juga memiliki 384 panti asuhan yang telah menjadi tempat perlindungan dan pembinaan bagi ribuan anak yatim piatu dan anak-anak yang membutuhkan. Melalui panti asuhan ini, Muhammadiyah memberikan kesempatan bagi anak-anak yang kurang beruntung untuk mendapatkan pendidikan, kasih sayang, dan dukungan untuk masa depan yang lebih baik. Dalam konteks ini, Muhammadiyah tidak hanya hadir sebagai penyedia fasilitas, tetapi juga sebagai garda terdepan dalam memelihara martabat kemanusiaan.

Selain sektor pendidikan dan kesehatan, Muhammadiyah juga memainkan peran penting dalam memajukan kehidupan agama melalui 20.198 masjid dan mushola yang tersebar di seluruh Indonesia. Tempat-tempat ibadah ini bukan hanya sebagai sarana untuk berdoa, tetapi juga sebagai pusat pengajaran dan pembinaan umat. Di sini, Muhammadiyah mengajarkan nilai-nilai Islam yang moderat, toleran, dan progresif, yang dapat mempererat persatuan umat dalam keberagaman.

Lebih dari sekadar lembaga pendidikan dan sosial, Muhammadiyah telah menunjukkan peran strategisnya dalam menghadapi berbagai tantangan sosial dan politik di Indonesia. Organisasi ini sejak lama menyadari bahwa kemakmuran bukan hanya soal meningkatkan taraf hidup materi, tetapi juga berhubungan dengan kemajuan moral dan sosial masyarakat. Dalam hal ini, Muhammadiyah telah berkontribusi dalam memajukan pemikiran keislaman yang moderat dan progresif.

Sebagai organisasi yang mengedepankan prinsip “tajdid” (pembaruan), Muhammadiyah tidak ragu untuk menyuarakan pentingnya reformasi dalam berbagai bidang, baik dalam kehidupan beragama, politik, maupun sosial. Muhammadiyah berperan aktif dalam mendorong terciptanya tata kelola pemerintahan yang bersih dan berkeadilan. Organisasi ini juga berkomitmen untuk menjaga Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi keberagaman dan toleransi, dengan menegaskan bahwa Islam yang rahmatan lil-‘alamin adalah agama yang mengajarkan kedamaian, bukan kekerasan.

Dalam konteks ini, Muhammadiyah memainkan peran sebagai agen moderasi beragama. Dalam menghadapi tantangan radikalisasi dan ekstremisme, Muhammadiyah menjadi benteng utama yang mengajarkan pentingnya Islam yang ramah, penuh kasih, dan sejuk, yang selaras dengan nilai-nilai kebangsaan. Muhammadiyah tidak hanya menjaga akidah umat, tetapi juga mengajak masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan semangat persatuan dan kebersamaan.

Lebih lanjut, Muhammadiyah juga berperan penting dalam merespons isu-isu kemanusiaan global. Dengan jaringan internasional yang dimilikinya, Muhammadiyah telah terlibat dalam berbagai kegiatan kemanusiaan lintas negara, termasuk membantu korban bencana alam, mendukung pengungsi, serta memperjuangkan hak-hak asasi manusia di berbagai belahan dunia. Hal ini menunjukkan bahwa visi kemakmuran yang diusung oleh Muhammadiyah tidak hanya terbatas pada kemajuan umat Islam di Indonesia, tetapi juga berorientasi pada kemajuan umat manusia secara global.

Menyambut usianya yang ke-112, Muhammadiyah telah menunjukkan bahwa komitmennya dalam menghadirkan kemakmuran untuk semua bukanlah sekadar slogan. Organisasi ini telah terbukti sebagai lembaga yang berkontribusi nyata dalam memperbaiki kualitas hidup masyarakat Indonesia di berbagai bidang. Dengan lebih dari seratus tahun perjalanan, Muhammadiyah tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang pesat dengan berbagai inovasi sosial yang berpihak pada rakyat.

Perjalanan Muhammadiyah yang panjang ini juga mencerminkan betapa pentingnya nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong dalam menciptakan kemakmuran. Sebagai sebuah organisasi yang lahir dari semangat perbaikan masyarakat, Muhammadiyah telah berhasil menjadi salah satu kekuatan besar yang turut andil dalam menciptakan kesejahteraan, baik dalam aspek spiritual, sosial, maupun ekonomi. Di usia yang semakin matang ini, Muhammadiyah tidak hanya berfokus pada dirinya sendiri, tetapi lebih jauh lagi berusaha untuk menghadirkan kemakmuran yang dapat dirasakan oleh semua, tanpa terkecuali.

Muhammadiyah mengajarkan kita bahwa kemakmuran sejati tidak hanya ditentukan oleh materi, tetapi juga oleh seberapa besar kita memberikan manfaat bagi sesama. Dalam memperingati usia ke-112 tahun ini, Muhammadiyah mengajak seluruh umat manusia untuk terus bergerak bersama, menghadirkan kemakmuran yang inklusif dan berkeadilan untuk semua lapisan masyarakat. Sebuah perjalanan panjang yang terus menyentuh setiap lapis kehidupan, membentuk bangsa yang lebih cerdas, sehat, dan sejahtera.

Di tengah tantangan global dan lokal yang semakin kompleks, Muhammadiyah telah membuktikan bahwa kekuatan besar suatu organisasi tidak hanya terletak pada seberapa banyak aset atau fasilitas yang dimiliki, tetapi pada seberapa besar dampak positif yang dapat ditinggalkan untuk kebaikan bersama. Dalam dunia yang terus berubah, Muhammadiyah tetap teguh pada komitmennya untuk memberikan kemakmuran bagi seluruh umat manusia, tanpa membedakan suku, agama, maupun status sosial.

Selamat milad yang ke-112, Muhammadiyah! Semoga perjalanan panjang ini terus menginspirasi dan membawa kemakmuran bagi seluruh bangsa Indonesia dan semesta.

MENCIPTAKAN PILKADA MAMUJU YANG DAMAI

Furqan Mawardi
Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Mamuju

Pemilihan kepala daerah Kabupaten Mamuju tinggal menghitung hari. Momen penting ini diwarnai oleh kehadiran dua pasangan calon, Tina Yuki dan Ado Damris, yang masing-masing memiliki basis massa yang fanatik. Suhu ketegangan di Mamuju menjelang pemilihan semakin meningkat, dan potensi gesekan antar pendukung semakin nyata. Hal ini terbukti saat pengambilan nomor urut dan debat yang diselenggarakan oleh KPU Mamuju, di mana terjadi beberapa insiden cekcok antarpendukung.

Sebagai warga Mamuju, saya merasa miris melihat situasi ini. Dalam sejarahnya, Mamuju dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi toleransi dan kerukunan. Namun, menjelang Pilkada, kita tidak boleh membiarkan perbedaan pendapat mengarah pada perpecahan. Kita merindukan Pilkada yang damai, tenteram, dan penuh harmoni, di mana suara masyarakat dapat disuarakan tanpa ketakutan akan gesekan sosial.

Dalam konteks ini, penting bagi semua pihak—baik calon, tim sukses, maupun pendukung—untuk memahami bahwa Pilkada bukanlah ajang untuk saling menjatuhkan, melainkan kesempatan untuk berkompetisi secara sehat demi masa depan Mamuju yang lebih baik. Data menunjukkan bahwa ketegangan yang muncul di tengah masyarakat dapat berpengaruh negatif pada partisipasi pemilih. Menurut survei yang dilakukan oleh lembaga independen, meningkatnya ketegangan politik dapat menyebabkan penurunan partisipasi pemilih hingga 20% dibandingkan pemilu sebelumnya.

Lebih lanjut, Komisi Pemilihan Umum (KPU) mencatat bahwa partisipasi pemilih di daerah dengan konflik tinggi cenderung menurun, dan dampak ini dapat bertahan hingga pemilihan selanjutnya. Oleh karena itu, upaya untuk menjaga suasana damai sangat penting demi memastikan hak suara seluruh masyarakat terlaksana dengan baik.

Tentu kita semua merindukan pilkada Mamuju yang damai, aman dan penuh harmoni. Dan harapan tersebut dapat terwujud ketika semua kalangan ikut aktif berpartisipasi mengambil peran. Untuk itu penulis melalui goresan pena ini menyampaikan pesan moral kepada :

Pertama, Para pasangan calon (Paslon), Saya berharap setiap calon dapat menjunjung tinggi etika dalam berpolitik. Jadilah teladan dalam bersikap, berkomunikasi, dan bertindak. Integritas adalah kunci untuk membangun kepercayaan masyarakat. setiap calon harus mampu mengedepankan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi atau kelompok. Program yang diusung harus berdasarkan kebutuhan dan aspirasi rakyat, bukan sekadar janji politik apalagi tidak ditepati.

Dalam persaingan yang ketat, saya berharap semua calon dapat menjaga suasana yang damai. Hindari kampanye hitam atau provokatif yang dapat memecah belah masyarakat. Mari kita jadikan Pilkada ini sebagai momen untuk bersatu. Mari kita utamakan kedamaian di atas segala kepentingan politik. Pilkada bukan hanya tentang memilih pemimpin, tetapi juga tentang menunjukkan kematangan berdemokrasi. Jaga kerukunan, dan tunjukkan bahwa Mamuju adalah tempat yang ramah dan bersatu.

Kedua, Kepada para pendukung, Saya berharap para pendukung dapat menjaga etika dalam berpolitik. Hormati pendukung calon lain dan hindari tindakan yang provokatif atau merugikan. Kemenangan sejati adalah ketika kita mampu berkompetisi secara sehat. Berikanlah dukungan dengan semangat cinta dan toleransi. Kita semua memiliki hak untuk memilih, dan perbedaan pendapat harus dihargai sebagai bagian dari demokrasi.

Saya berharap para pendukung dapat menjaga persatuan di tengah perbedaan. Ingatlah bahwa setelah pemilihan, kita tetap satu masyarakat. Mari kita utamakan kepentingan Mamuju di atas kepentingan politik. Sayapun  berharap kepada para  pendukung untuk siap menerima hasil Pilkada, apapun itu, dengan lapang dada.

Dalam politik, perbedaan adalah hal yang wajar. Mari kita hargai setiap pendapat dan dukungan. Ingatlah bahwa kita semua adalah bagian dari Mamuju, dan keragaman adalah kekuatan kita. Mari kita tunjukkan bahwa kita adalah masyarakat yang dewasa dan siap bekerja sama demi Mamuju yang lebih baik.

Ketiga, Kepada Para Tokoh Masyarakat. Harapan saya, tokoh masyarakat dapat secara aktif menyebarkan pesan tentang toleransi dan pentingnya persatuan di tengah perbedaan. Mereka memiliki pengaruh besar untuk membentuk opini publik dan mempromosikan kerukunan.

Para tokoh masyarakat mesti berperan aktif dalam menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan mereka berada. Mendorong pendukung untuk tidak terlibat dalam tindakan provokatif akan sangat membantu menciptakan suasana damai.  Aktif mendorong para warga untuk berpartisipasi dalam pemilihan. Dengan memberikan informasi yang jelas dan mendorong diskusi, mereka dapat membantu meningkatkan kesadaran akan pentingnya menggunakan hak suara.

Peran para tokoh masyarakat sangat signifikan dalam memberikan edukasi politik kepada warga. Menyampaikan informasi tentang tata cara pemilihan, pentingnya memilih, dan dampak dari pilihan yang diambil akan sangat bermanfaat bagi masyarakat. Demikian pula para tokloh dapat menjadi jembatan antara masyarakat dan calon kepala daerah. Mengakomodasi aspirasi warga dan menyampaikannya kepada calon akan membantu memastikan bahwa kebijakan yang diambil sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Mari kita jadikan Pilkada ini sebagai momentum untuk memperkuat persatuan dan menciptakan lingkungan yang kondusif. Calon-calon yang akan bertarung perlu menunjukkan sikap yang positif dan konstruktif, serta mengajak pendukungnya untuk berperilaku sopan dan menghargai perbedaan. Mari kita ingat bahwa siapa pun yang terpilih nanti adalah pemimpin bagi semua, tanpa memandang asal dukungan politiknya.

Akhir kata, saya berharap Pilkada Mamuju kali ini bisa menjadi contoh baik bagi daerah lain. Mari kita wujudkan Pilkada yang damai dan penuh harapan, yang mencerminkan karakter Mamuju yang bersatu, toleran, dan saling menghargai. Dengan demikian, kita tidak hanya memilih kepala daerah, tetapi juga meneguhkan komitmen kita untuk membangun Mamuju yang lebih baik.

Mari kita jaga bersama Mamuju yang kita cintai, dengan semangat persatuan dan kasih sayang, agar Pilkada kali ini benar-benar menjadi momen bersejarah bagi kita semua. Bersama-sama, kita bisa menciptakan Pilkada yang tidak hanya damai, tetapi juga penuh makna bagi masa depan kita semua. Mari kita wujudkan Mamuju yang lebih baik, lebih sejahtera, dan lebih harmonis!

DEWAN MASJID INDONESIA: PILAR KEBANGKITAN SPIRITUAL DI SULAWESI BARAT (Menyambut Pelantikan DMI SULBAR 2024-2029)

Furqan Mawardi
Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Mamuju

Pelantikan Dewan Masjid Indonesia (DMI) Sulawesi Barat untuk masa khidmat 2024-2029 merupakan sebuah momentum penting yang tidak hanya sekadar ritual, tetapi juga harapan bagi kebangkitan spiritual di tengah masyarakat. Di era yang semakin kompleks ini, di mana tantangan sosial, ekonomi, dan budaya kerap kali mengaburkan arah kehidupan beragama, peran masjid sebagai pusat penguatan iman dan komunitas menjadi semakin krusial.

Masjid, sebagai rumah ibadah, seharusnya tidak hanya berfungsi sebagai tempat sholat. Ia harus menjadi pusat pembelajaran, dialog, dan pemberdayaan. DMI di Sulawesi Barat memiliki peluang besar untuk menghidupkan kembali fungsi-fungsi ini, menjadikannya pilar yang kokoh bagi masyarakat. Dengan mengintegrasikan kegiatan keagamaan dan sosial, masjid dapat menjadi tempat di mana umat berkumpul, saling mendukung, dan berkontribusi positif bagi lingkungan sekitar.

Salah satu langkah progresif yang dapat diambil oleh DMI adalah meningkatkan kualitas program-program pendidikan dan pelatihan yang berorientasi pada pengembangan karakter. Membangun generasi muda yang tidak hanya paham agama, tetapi juga memiliki keterampilan dan kepedulian sosial yang tinggi adalah sebuah investasi jangka panjang. Dengan menjadikan masjid sebagai lembaga pendidikan yang inklusif, DMI dapat menjembatani kesenjangan pendidikan di masyarakat, terutama di daerah-daerah terpencil.

Selain itu, kolaborasi dengan berbagai pihak, baik pemerintah maupun organisasi masyarakat sipil, sangat penting untuk mewujudkan visi ini. DMI bisa menjadi mediator yang efektif dalam mempertemukan berbagai kepentingan, menciptakan sinergi antara program pemerintah dan inisiatif komunitas. Dengan dukungan yang solid, masjid bisa bertransformasi menjadi pusat inovasi sosial yang memberikan solusi nyata bagi masalah-masalah yang dihadapi masyarakat.

Tak kalah pentingnya, DMI juga harus aktif dalam merespons isu-isu aktual yang dihadapi masyarakat, seperti kesehatan, pendidikan, dan lingkungan. Melalui pendekatan yang adaptif dan responsif, masjid dapat menjadi tempat di mana umat berdiskusi, berbagi solusi, dan bergerak bersama untuk kebaikan. Misalnya, mengadakan seminar kesehatan, pelatihan kewirausahaan, atau kampanye lingkungan hidup yang melibatkan semua lapisan masyarakat.

Dewan Masjid Indonesia (DMI) Sulawesi Barat juga tidak hanya dituntut untuk menjalankan fungsi-fungsi tradisional masjid, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Dalam konteks ini, penerapan teknologi informasi menjadi langkah strategis yang tidak bisa diabaikan. DMI bisa memanfaatkan platform digital untuk menyebarkan informasi, mengorganisir kegiatan, serta membangun komunitas virtual yang memperkuat ukhuwah Islamiyah.

Membangun aplikasi atau website yang berisi informasi kegiatan, jadwal kajian, dan program-program sosial bisa mempermudah akses masyarakat terhadap berbagai layanan yang disediakan masjid. Ini tidak hanya akan meningkatkan partisipasi masyarakat, tetapi juga menjadikan masjid sebagai sumber informasi yang kredibel dan terpercaya.

Selanjutnya, DMI harus memprioritaskan program-program yang mendorong keterlibatan kaum perempuan dan anak-anak. Masjid bisa menjadi tempat di mana perempuan tidak hanya sebagai jamaah, tetapi juga sebagai agen perubahan. Dengan menyelenggarakan program pemberdayaan perempuan, seperti pelatihan keterampilan, seminar kesehatan, dan ruang diskusi, masjid akan memberi mereka platform untuk berkontribusi dalam pembangunan masyarakat.

Anak-anak juga perlu dilibatkan secara aktif. Mengadakan kelas-kelas pengajian yang menyenangkan, kegiatan ekstrakurikuler, dan lomba-lomba yang menarik dapat membangun kecintaan mereka terhadap masjid dan ajaran Islam. Melalui pendekatan yang menarik, kita tidak hanya mengajarkan agama, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kemandirian dan kepemimpinan sejak dini.

Selain program pendidikan, DMI juga dapat mengambil inisiatif dalam kegiatan sosial kemanusiaan. Mengorganisir bakti sosial, donor darah, atau bantuan bagi mereka yang terdampak bencana bisa memperkuat solidaritas antarwarga. Dalam hal ini, masjid berperan sebagai jembatan yang menghubungkan individu dengan masyarakat luas, menciptakan rasa kepemilikan dan tanggung jawab sosial yang lebih besar.

Penting untuk diingat bahwa keberhasilan DMI tidak hanya ditentukan oleh visi dan program yang dijalankan, tetapi juga oleh kepemimpinan yang inspiratif. Para pengurus harus menjadi teladan dalam akhlak dan perilaku, serta mampu memotivasi dan menggerakkan jamaah. Komunikasi yang baik dan keterbukaan terhadap masukan dari masyarakat akan membangun kepercayaan yang kuat, sehingga setiap langkah yang diambil dapat diterima dan didukung oleh seluruh anggota komunitas.

Dalam konteks tantangan globalisasi, masjid dapat menjadi benteng pertahanan terhadap arus budaya asing yang mungkin merusak nilai-nilai moral dan spiritual. Dengan menguatkan peran masjid sebagai pusat pembelajaran, DMI dapat membentuk generasi yang tidak hanya paham agama, tetapi juga memiliki wawasan yang luas. Oleh karena itu, pelatihan bagi para pengurus masjid dan pengembangan kurikulum pendidikan di masjid sangat diperlukan.

DMI juga harus mengedepankan komunikasi yang baik dengan semua elemen masyarakat. Keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan program akan menciptakan rasa memiliki yang kuat terhadap masjid. Ini penting untuk menghindari apatisme dan mendorong masyarakat untuk lebih aktif dalam kegiatan keagamaan.

Salah satu tantangan terbesar adalah membangun semangat toleransi dan kerja sama antarumat beragama. Di Sulawesi Barat yang kaya akan keragaman, DMI harus dapat memposisikan masjid sebagai tempat dialog dan kerukunan. Melalui kegiatan lintas agama, DMI bisa menunjukkan bahwa masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol persatuan dan perdamaian.

Dengan kepemimpinan yang baru, DMI Sulawesi Barat memiliki peluang emas untuk merevitalisasi peran masjid dalam kehidupan sehari-hari. Melalui visi yang jelas dan kerja keras, DMI dapat menjadi pilar kebangkitan spiritual yang membawa perubahan positif bagi masyarakat. Semoga dengan langkah-langkah yang tepat, masjid-masjid di Sulawesi Barat akan semakin menjadi sumber inspirasi, pendidikan, dan solidaritas bagi semua.

Santri Sebagai Pemimpin Masa Depan (Menyambut Hari Santri 2024)

Furqan Mawardi
Wakil Rektor I Universitas Muhamamdiyah Mamuju
Pengasuh Pondok MBS At-Tanwir Muhammadiyah Mamuju

Peran santri dalam sejarah perjuangan Indonesia sudah terbukti sejak resolusi jihad yang digelorakan pada 1945. Kini, di era globalisasi, santri dituntut lebih dari sekadar pengawal moral dan agama. Mereka harus siap menjadi pemimpin masa depan yang mampu menjawab tantangan global, mulai dari ekonomi, teknologi, hingga sosial politik. Data terbaru dari Kementerian Agama menunjukkan bahwa lebih dari 4 juta santri tersebar di Indonesia, dengan ribuan di antaranya mengenyam pendidikan di luar negeri. Ini membuktikan bahwa pesantren bukan lagi lembaga pendidikan yang terbatas ruang, melainkan sumber daya potensial dalam kancah internasional.

Namun, untuk mewujudkan santri sebagai pemimpin global, diperlukan transformasi pendidikan pesantren. Integrasi ilmu agama dan sains, peningkatan keterampilan teknologi, serta pengembangan soft skills menjadi kebutuhan mutlak. Pesantren harus menjadi pusat inovasi yang membentuk generasi santri unggul, berdaya saing global, namun tetap menjunjung tinggi akhlak dan moralitas.

Pemerintah, pesantren, dan masyarakat perlu bersinergi. Salah satunya dengan memperluas akses santri pada pendidikan internasional dan program pertukaran budaya, sehingga mereka dapat memperluas wawasan sekaligus membawa nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Santri yang siap menjadi pemimpin masa depan adalah mereka yang mampu mengadaptasi perubahan global tanpa kehilangan jati diri sebagai penerus perjuangan ulama.

Dalam konteks globalisasi, santri memiliki kesempatan besar untuk berperan lebih luas di berbagai sektor. Misalnya, mereka dapat menjadi penggerak ekonomi syariah yang terus berkembang secara global, atau memimpin inisiatif sosial yang mengedepankan prinsip keadilan dan kesetaraan. Pesantren, dengan basis nilai-nilai Islam yang kokoh, sebenarnya memiliki modal kuat dalam membentuk pemimpin yang bukan hanya kompeten, tetapi juga berintegritas. Inilah yang dibutuhkan dunia saat ini—pemimpin yang tidak hanya piawai dalam mengambil keputusan, tetapi juga memiliki nurani moral yang kuat.

Di era digital, pesantren perlu beradaptasi dengan teknologi untuk memperkuat peran santri di kancah global. Pendidikan pesantren harus memperkenalkan literasi digital, kewirausahaan, dan kemampuan berpikir kritis sejak dini. Hal ini akan membuat santri lebih siap menghadapi dunia kerja yang kompetitif dan beragam, tanpa melupakan akar nilai keagamaan yang mereka pelajari.

Menghadapai Tantangan zaman

Hemat penulis ada tiga hal yeng mesti dimiliki oleh santri dan lembaga pesantren dalam mewujudkan harapan bagaimana alumni pesantren siap menjadi pemimpin  di masa depan sekaligus mampu menjawab tantangan zaman, hal tersebut diantaranya adalah

Pertama, Penguatan Soft Skills, Salah satu aspek penting yang perlu ditekankan kepada setiap santri  adalah penguatan soft skills seperti kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan manajemen konflik. Santri yang memiliki dasar pendidikan agama yang kuat, jika diperkaya dengan keterampilan tersebut, akan menjadi pemimpin yang tangguh dan adaptif dalam menghadapi dinamika global yang penuh kompleksitas.

Di Pesantren, santri dididik dengan nilai-nilai Islam yang mengutamakan akhlak mulia. Soft skill seperti kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi, dan kerja sama tim sangat relevan dengan karakter Islam yang mengedepankan keadilan, kejujuran, dan integritas. Pemimpin yang efektif tidak hanya mampu mengambil keputusan yang tepat, tetapi juga mampu memimpin dengan hati, memotivasi, dan memberi contoh yang baik bagi orang lain.

Pemimpin masa depan tidak hanya dituntut cerdas secara intelektual, tetapi juga harus memiliki kemampuan leadership, empati, dan kolaborasi. Soft skills memungkinkan santri untuk menjadi pemimpin yang tidak hanya tegas, tetapi juga bijaksana, mampu mendengarkan, dan memahami kebutuhan masyarakat. Dengan penguatan soft skills, santri bisa menjadi pemimpin yang mampu memengaruhi dan memotivasi orang lain untuk mencapai tujuan bersama, sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Kedua Pendidikan interdisipliner Tantangan bagi pesantren saat ini adalah memastikan bahwa santri tidak hanya dibekali dengan pengetahuan agama, tetapi juga dengan wawasan yang luas tentang isu-isu global. yang menggabungkan ilmu agama, sains, dan teknologi adalah kunci untuk melahirkan generasi santri yang siap bersaing di dunia internasional. Lebih dari itu, penting bagi pesantren untuk menciptakan lingkungan belajar yang terbuka, inklusif, dan inovatif, di mana santri didorong untuk berpikir kritis dan berinovasi sesuai dengan ajaran Islam.

Pendidikan interdisipliner memungkinkan santri untuk mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan ilmu pengetahuan modern. Santri tidak hanya belajar memahami hukum-hukum agama, tetapi juga bagaimana menerapkannya dalam konteks ilmiah dan teknologi. Misalnya, mereka bisa memahami prinsip etika Islam dalam penggunaan teknologi, ilmu kesehatan, atau kebijakan lingkungan. Dengan pendekatan interdisipliner, santri dapat menjadi agen perubahan yang mampu memberikan solusi berbasis nilai Islam di berbagai bidang.

Ketiga, Jaringan alumni santri. Menciptakan jaringan santri yang kuat, baik di dalam maupun luar negeri, untuk berbagi ilmu dan pengalaman para santri dapat saling mendukung dalam meraih peluang global, sekaligus menjadi duta bagi Islam moderat yang penuh kedamaian. Kolaborasi ini penting untuk memperluas pengaruh santri dan pesantren di dunia internasional, sekaligus memperkuat kontribusi mereka di tingkat lokal.

Keberhasilan santri sebagai pemimpin masa depan sangat bergantung pada seberapa kuat pesantren dapat bertransformasi tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar Islam. Dengan sinergi dari berbagai pihak—lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat luas—santri bisa menjadi agen perubahan yang membawa Indonesia menuju peran lebih besar di kancah global, sekaligus menjaga identitas bangsa yang religius dan bermoral.

Santri sebagai pemimpin masa depan juga harus mampu mengedepankan dialog dan diplomasi dalam menghadapi tantangan global. Dunia yang semakin terhubung menuntut pemimpin yang mampu merajut kerjasama nasional dan internasional, baik di bidang ekonomi, sosial, maupun politik, dengan tetap menjunjung tinggi prinsip-prinsip Islam. Dengan penguasaan terhadap nilai-nilai toleransi, keadilan, dan perdamaian, santri memiliki potensi besar untuk berperan sebagai pemimpin yang menggerakkan perubahan positif di dunia.

Dengan pendekatan ini, santri akan siap tidak hanya untuk merengkuh masa depan mereka sendiri, tetapi juga untuk menjadi pilar dalam membangun peradaban yang lebih baik. Sebagai pemimpin masa depan, mereka akan mampu menghadapi tantangan dunia modern dengan ketangguhan spiritual, intelektual, dan moral yang tinggi—membawa pesan damai Islam ke seluruh penjuru dunia.

Pada akhirnya, santri adalah harapan bangsa dan umat. Mereka yang kini menimba ilmu di pesantren adalah generasi yang kelak akan menjadi pemimpin masyarakat, bangsa, dan dunia. Tugas kita bersama adalah memastikan bahwa mereka mendapatkan dukungan, pendidikan, dan kesempatan yang memadai untuk mengembangkan potensi mereka. Dengan langkah yang tepat, santri akan menjadi aktor utama dalam mewujudkan Indonesia yang berperan signifikan di panggung global, membawa misi kemanusiaan dan moralitas yang luhur.

Menakar Hati Nurani Anggota DPR Terpilih

Furqan Mawardi
Wakil Rektor I Universitas Muhammaadiyah Mamuju

Miris! Baru saja dilantik, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia periode 2024-2029 lebih memilih membahas tunjangan rumah dan tunjangan hidup ketimbang isu-isu krusial yang dihadapi rakyat. Dalam konteks kemiskinan yang meluas, pendidikan yang terus menurun, dan akses kesehatan yang terbatas, seharusnya perhatian mereka tertuju pada bagaimana meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Harapan rakyat kepada anggota DPR sangat tinggi. Mereka adalah wakil yang seharusnya menyuarakan aspirasi masyarakat dan memperjuangkan kepentingan umum. Namun, dengan fokus pada tunjangan, anggota DPR seolah melupakan amanah besar yang telah diberikan kepada mereka. Rakyat menantikan kebijakan yang dapat merespons tantangan sosial-ekonomi, bukan debat sepele yang hanya mementingkan kesejahteraan pribadi.

Kondisi masyarakat saat ini memang memprihatinkan. Menurut data, tingkat kemiskinan di Indonesia masih signifikan, dengan banyak keluarga berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar. Sementara itu, sektor pendidikan mengalami banyak tantangan, termasuk akses yang tidak merata dan kualitas yang menurun. Dalam situasi seperti ini, rakyat berharap wakil mereka di DPR dapat menjadi garda terdepan dalam mengatasi masalah-masalah tersebut.

Namun, kenyataan menunjukkan sebaliknya. Perdebatan tentang tunjangan yang muncul di awal masa jabatan menunjukkan ketidakpekaan dan kurangnya empati. Anggota DPR seharusnya menyadari bahwa mereka bukan hanya wakil suara politik, tetapi juga harus mampu merangkul dan memperjuangkan kepentingan rakyat. Jika mereka terus terjebak dalam kultur politik yang mementingkan diri sendiri, kepercayaan publik akan semakin menurun.

Anggota DPR bukan hanya pemegang suara dalam rapat-rapat legislatif; mereka adalah wakil dari beragam lapisan masyarakat dengan kebutuhan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, sangat penting bagi mereka untuk tidak hanya memahami isu-isu yang ada, tetapi juga merasakan denyut nadi kehidupan rakyat. Hati nurani yang peka akan membuat mereka lebih mampu merespons kebutuhan rakyat, bukan sekadar menciptakan kebijakan yang jauh dari realitas.

Ada beberapa langkah konkret yang bisa diambil oleh anggota DPR untuk menunjukkan bahwa mereka layak menjadi wakil rakyat, diantaranya:

Pertama, Dengarkan Suara Rakyat: Mengadakan dialog rutin dengan masyarakat adalah langkah awal yang sangat penting. Melalui forum-forum diskusi, anggota DPR dapat langsung mendengar keluhan dan aspirasi rakyat. Ini bukan hanya soal mendengarkan, tetapi juga memahami konteks dan nuansa yang ada di masyarakat. Melibatkan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan akan memberi mereka rasa memiliki terhadap kebijakan yang diambil.

Kedua, Prioritaskan Isu Sosial: Anggota DPR perlu fokus pada legislasi yang langsung berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Misalnya, isu pendidikan dan kesehatan seharusnya menjadi prioritas utama. Perbaikan infrastruktur pendidikan dan akses layanan kesehatan yang lebih baik akan memberikan dampak positif yang nyata bagi masyarakat. Legislasi yang diusulkan harus berdasarkan kebutuhan riil dan bukan sekadar memenuhi agenda politik.

Ketiga, Transparansi dan Akuntabilitas: Menerapkan sistem transparansi dalam penggunaan anggaran dan hasil kerja DPR adalah keharusan. Publikasi laporan tahunan mengenai penggunaan dana dan kegiatan legislatif akan membantu meningkatkan kepercayaan masyarakat. Dengan transparansi, rakyat dapat mengawasi bagaimana uang mereka digunakan dan memastikan bahwa kebijakan yang diambil benar-benar memberikan manfaat.

Anggota DPR terpilih harus mampu menyelaraskan kepentingan politik dengan kebutuhan rakyat. Dalam konteks ini, transparansi dan akuntabilitas adalah kunci. Mereka perlu menunjukkan komitmen untuk mendengarkan aspirasi konstituen dan tidak terjebak dalam praktik korupsi atau penyalahgunaan wewenang. Hati nurani yang tulus akan tercermin dari kebijakan yang pro-rakyat, bukan sekadar pro-partai atau pro-diri sendiri.

Keempat, Kolaborasi dengan Lembaga Masyarakat: Bekerja sama dengan organisasi non-pemerintah (NGO) dan lembaga masyarakat sipil atau organisasi masyarakat lainnya dapat menjadi jembatan komunikasi yang efektif antara legislatif dan rakyat. Kolaborasi ini memungkinkan anggota DPR untuk lebih memahami kondisi di lapangan dan menciptakan program-program yang lebih relevan. Organisasi masyarakat sering kali memiliki akses langsung ke isu-isu yang dihadapi masyarakat dan dapat memberikan wawasan yang lebih berharga.

Kelima, Pendidikan dan Pelatihan: Meningkatkan pengetahuan anggota DPR tentang isu-isu sosial yang relevan melalui pelatihan adalah langkah yang sangat penting. Mereka perlu memahami dinamika masyarakat, termasuk tantangan yang dihadapi oleh kelompok rentan. Pelatihan dapat mencakup berbagai aspek, mulai dari manajemen kebijakan hingga pemahaman tentang data dan analisis sosial. Dengan pengetahuan yang lebih baik, anggota DPR dapat membuat keputusan yang lebih tepat dan berorientasi pada masyarakat.

Kita berada di persimpangan jalan. Anggota DPR terpilih harus membuktikan bahwa mereka mampu menjalankan amanah ini dengan baik. Dengan mendengarkan suara rakyat dan fokus pada isu-isu sosial yang mendesak, mereka bisa mengubah citra lembaga legislatif dan memberikan harapan baru bagi masyarakat. Rakyat menantikan tindakan nyata dan komitmen dari wakil mereka untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

Di era informasi yang cepat, masyarakat semakin kritis dan cerdas. Mereka tidak lagi pasif menunggu janji-janji manis, tetapi aktif menuntut tindakan nyata. Oleh karena itu, anggota DPR terpilih harus berani mengambil sikap dan berdiri di garis depan untuk memperjuangkan kepentingan rakyat, meskipun terkadang hal tersebut berlawanan dengan kepentingan politik jangka pendek.

Jika anggota DPR dapat bertransformasi menjadi wakil yang peduli dan peka terhadap kondisi masyarakat, mereka tidak hanya akan mengembalikan kepercayaan publik, tetapi juga akan menciptakan dampak positif yang besar bagi bangsa. Mari kita bersama-sama mengawasi dan mendorong mereka untuk melakukan perubahan yang diharapkan. Hanya dengan cara ini, kita dapat memastikan bahwa suara rakyat benar-benar terwakili dalam setiap kebijakan yang diambil.

UWG Malang Sambut Kunjungan Rektor UNIMAJU dan Jalin Kerja Sama Strategis

Malang, 1 Agustus 2024 — Universitas Widyagama Malang (UWG) hari ini menerima kunjungan istimewa dari Rektor Universitas Muhammadiyah Mamuju (UNIMAJU) Sulawesi Barat, Dr. H. Muh Tahir, M.Si, bersama sekretarisnya. Kunjungan ini merupakan bagian dari agenda kerja dan silahturahmi antara dua teman lama yang pernah menempuh studi di Sulawesi.

Rektor UWG Malang, Dr. H. Anwar Cengkeng, SH., MHum., menyambut penuh kehormatan kehadiran Dr. Muh Tahir. “Merupakan suatu kehormatan luar biasa dapat menyambut teman sejawat kami dari Mamuju yang kini memimpin UNIMAJU,” ungkap Dr. Cengkeng dalam sambutannya. Kedua rektor tersebut memiliki hubungan akademik yang kuat sejak masa studi mereka di Sulawesi Selatan.

Acara tersebut dilanjutkan di ruang sidang rektorat UWG Malang, dihadiri oleh para wakil rektor dan dekan-dekan fakultas di lingkungan UWG. Dalam sambutannya, Dr. Muh Tahir memaparkan perkembangan terbaru mengenai UNIMAJU yang sejak tahun 2021 telah berstatus sebagai universitas, sebelumnya dikenal sebagai Sekolah Tinggi. Beliau menjelaskan bahwa Program Studi Manajemen merupakan salah satu yang paling diminati di UNIMAJU, dengan banyak lulusan yang bekerja di instansi pemerintahan dan sektor swasta, terutama di perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang sumber daya alam.

Namun, UNIMAJU menghadapi beberapa tantangan, antara lain biaya pendidikan yang harus tetap terjangkau bagi masyarakat menengah ke bawah dan kurangnya tenaga pengajar dengan kualifikasi Lektor Kepala. Dalam menghadapi tantangan ini, Dr. Tahir berharap adanya kerjasama dengan UWG Malang. “Kami berharap bisa menjalin kolaborasi dalam penelitian, pengabdian masyarakat, dan juga melakukan pertukaran mahasiswa atau kuliah daring antara dosen UWG dan UNIMAJU,” paparnya.

Sebagai bentuk komitmen terhadap kerja sama, UWG Malang dan UNIMAJU melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU). Penandatanganan ini menandai awal dari kolaborasi antara kedua universitas dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Diskusi dengan para Dekan Fakultas di UWG Malang menunjukkan bahwa empat fakultas di UWG siap untuk berkolaborasi dengan UNIMAJU dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas akademik dan mendukung pengembangan pendidikan di kedua universitas, serta memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

Dengan terjalinnya kerjasama ini, kedua belah pihak berharap dapat saling mendukung dan memperkaya pengalaman akademik mereka, serta meningkatkan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat.(san/pip)

UNIMAJU DAN UAD JALIN KERJASAMA

Universitas Muhammadiyah Mamuju (Unimaju) menjalin kerjasama dengan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dalam bidang pengembanan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Penandatangan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara kedua pimpinan perguruan tinggi dilakukan oleh Prof Muchlas.MT dengan Dr. Muh Tahir.M.Si Rektor Unimaju, di Di Ruang Metting Perpustakaan UAD, Sabtu (21/10).

Pada acara penandatanganan MoU yang di Rangakaikan Banchmarking Penjaminan mutu tersebut, Rektor Unimaju di dampingi oleh Dekan Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Muhammad Arsyad.S.Pdi.M.M, Kepala LPM Rezky Novianti, Muhammad Ardiansyah.S.Pi.M.Si, Serta Hadi Eka Saputra.S.E dan Staff Rektorat Unimaju disambut oleh Rektor UAD yang didampingi Wakil Rektor, Kepala BPM, Dekan Fakultas Ekonomi Dan dan Bisnis serta jajaran UAD.

Rektor Unimaju Dr.Muh Tahir.M.Si menegaskan bahwa kerjasama antar institusi pendidikan merupakan keniscayaan untuk dilaksanakan dalam rangka pengembangan institusi tersebut. Pada bagian lain, Rektor UAD menyampaikan implementasi kerjasama ini dapat diselaraskan dengan Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), seperti pertukaran mahasiswa (student exchange), pertukaran dosen (lecture exchange), riset bersama, technical assistance pembelajaran dan penjaminan mutu akademik dan kegiatan lain yang relevan.

Rektor UAD.Prof Muchlas.M.T menyampaikan apresiasi serta ucapan terima kasih atas kunjungan Rektor Unimaju ke UAD dan sekaligus penandatangan MoU antara institusi kedua belah pihak. MoU ini berisi kesepakatan untuk melaksanakan kerjasama dalam hal pendidikan, penelitian dan pengabdian. Prof Muchlas Menambahkan Bahwa kolaborasi Antar PTM adalah langkah tepat untuk penguatan serta menitip pesan mengelola PTM harus di barengi sabar dan Bahagia gak boleh stress, harus banyak ngopi.” kepada masyarakat. Implementasi dari MoU ditindaklanjuti dalam bentuk Perjanjian Kerja Sama (PKS). Kerja sama yang mulai diimplementasi antara Fakultas Ekonomi dan Bisnis UAD dan Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Unimaju.